1. Dalam bacaan “Gotong-Royong Rutin Berbuah Jalan Desa” metode partisipatif yang tergambar dalam bacaan tersebut cenderung ke arah teknik-teknik partisipasi (Technology of Participation). Teknik-teknik partisipasi ini merupakan sebuah metode yang dapat menurunkan gagasan-gagasan besar mengenai proses partisipasi  menjadi langkah-langkah teknis yang  mudah diaplikasikan. Dalam metode ini terbagi lagi kedalam tiga bagian; metode diskusi, metode lokakarya, dan metode perencanaan aksi. Dalam bacaan terlihat dalam metode perencanaan aksi.

Metode ini ditandai dengan adanya proses penyusunan rencana pada suatu gagasan program. Rencana gotong-royong warga desa atas prakarsa Veky Koroh dalam pembuatan jalan sebagai penghubung desa dengan wilayah lain. Dalam prakarsa ini didasarkan atas kebutuhan bersama warga atas kebutuhan jalan sebagai akses menuju luar desa dan pentingnya pemukiman baru untuk anak cucu nanti kedepannya. Metode ini juga efektif apabila  digunakan untuk aktivitas yang spesifik (pembuatan jalan) bukan pada perencanaan program yang kompleks.

Perencanaan harus dibuat secara rinci dan realistic, missal dalam rapat dikecamatan waktu dan tempat akan diadakannya gotong-royong. Waktu yang ditetapkan sesuai dengan kondisi warga yang bermatapecaharian petani, kapan waktu mempersiapkan lahan, kapan watuk panen dan pasca panen. Sehingga pelaksanaan tepat dengan waktu warga.

Dalam metode ini juga penting adanya rasa suka rela dari masing-masing individu dalam proses pengerjaan nanti (gotong-royong) yang dibarengi dengan adanya kebutuhan bersama yang dimiliki setiap warga. Terlihat  dengan tidak  sulitnya gerakan warga. Warga berduyun-duyun datang kelokasi tidak dengan tangan kosong, mereka membawa peralatan seperti cangkul, parang, kampak, linggis dan lain sebagainya. Tak hanya peralatan mereka  juga membawa makanan sendiri yang bervariasi dan itu telah mereka siap kan untuk jangka waktu empat hari sesuai perencanaan awal.

Dalam pelaksanaan metode ini perlu adanya kesediaan waktu yang cukup sesuai dengan rencana awal  untuk menyelesaikan semua tahapan. Dalam kasus ini waktu yang digunakan mengikuti kalender pertanian masyarakat Amarassi, yaitu bulan juni sampai bulan September tepatnya empat hari awal set6iap minggunya dalam jangka waktu tiga bulan tersebut warga Amarassi tidak terikat lagi dengan pekerjaan di ladang karena panen telah berlalu. Sehingga kegiatan gotong royong tidak terganggu dengan masalah ladang.

  1. Tahapan-tahapan yang dilakukan dalam mengimplementasikan metode-metode partisipatif

Konteks

Diskusi dimulai dengan membuka permasalahan pertama yaitu mengenai jalan untuk menuju pemakaman yang sulit, selanjutnya setelah manfaat dirasakan, masyarakat mulai mau bergotong royong untuk membuat jalan desa. Sosialisasi tahapan ini dilakukan oleh Veky Koroh dan juga gereja di sekitar.

Lingkaran Sukses

Veky Koroh menyampaikan bahwa semestinya ada kemudahan untuk para jenazah diantarkan ke pemakaman, untuk proyek selanjutnya manfaat sukses berupa keluarnya mereka dari keterasingan dengan adanya jalan desa.

Komitmen

Masyarakat termotivasi dengan masukan-masukan diatas, sehingga ada rasa untuk memenuhi kebutuhan bersama. Masyarakat Amarassi pun mulai berubah dari yang awalnya terpaksa menjadi sukarela, bahkan sangat jarang yang tidak mengikuti pembuatan jalan desa.

Workshop Aktivitas Kunci

Kebutuhan mereka pun mulai bertambah untuk proses pembuatan jalan. Misalnya penggunaan alat berat untuk menghancurkan batu atau aspal untuk jalan yang menghubunkan desa. Pemenuhan kebutuhan ini di bantu oleh aparat pemerintahan dalam hal ini DPU.

Penjadwalan dan Penugasan

Jadwal untuk melakukan gotong-royong pembuatan jalan dilaksanakan setiap bulan Juni-September selama 4 hari pada minggu pertama. Penugasan pun telah dibagi dengan baik misalkan ada yang bertugas untuk menjaga base camp atau kelompok-kelompok kecil yang membagi tugas penempatan untuk membangun jalan tembus.

Refleksi

Pelaksanaan pembangunan jalan memberikan dampak positif bagi masyrakat Amarassi. Pembangunan didaerah tersebut semakin baik dan ketertinggalan pun perlahan menurun.

3.                   Dalam kepemimpinan ada berbagai macam tipe, contohnya tipe kepemimpinan tradisional dan kepemimpinan partisipatif. Tipe kepemimpinan tradisional dicirikan dari asumsi yang bersifat kemenangan, dalam bacaan terlihat yakni para penjajah, Belanda dan Jepang. Mereka memiliki hak seutuhnya atas kebutuhan yang mereka miliki dengan cara yang mereka sukai dengan cara memaksa warga bekerja sesuai perintah mereka. Selanjutnya pikiran mereka yang kemudian timbul perintah kepada warga apa yang harus warga Amarassi lakukan yakni membuat jalan menuju pembangunan instalasi militer. Warga sama sekali tidak ada pelibatan dalam menentukan segala sesuatunya, semua berdasarkan perintah dan paksaan dari para penjajah. Mengandalkan kemampuan pribadi penjajah dengan memanfaatkan tenaga warga Amarassi.

Tipe kepemimpinan yang ada pada camat di Amarassi, khususnya yang dibahas yaitu Veky Koroh yaitu tipe kepemimpinan partisipatif, yaitu dimana pemimpin bertindak sebagai fasilitator. Asumsi yang dianut oleh Veky Koroh yaitu bahwa Amarassi memiliki kecenderungan sebagai daerah terisolir yang membutuhkan jalan desa untuk mempermudah akses, selain itu masyarakat Amarassi memiliki semangat akan gotong-royong. Tujuan yang dimiliki oleh Veky Koroh ini dapat diwujudkan dengan pengetahuan Veky Koroh akan sifat gotong-royong masyakat yang bisa dimanfaatkan untuk membangun jalan desa. Pemikiran ini dapat terlaksana dengan adanya dukungan serta partisipasi dari masyarakat.

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Komunikasi merupakan sarana untuk terjalinnya hubungan antar seseorang dengan orang lain, dengan adanya komunikasi maka terjadilah hubungan sosial, karena bahwa manusia itu adalah sebagai makluk sosial yang saling membutuhkan, sehingga terjadinya interaksi timbal balik. (Treece, 1989) “komunikasi merupakan proses sosial dari orang-orang yang terlibat dalam hubungan sosial dan memiliki kesamaan makna mengenai suatu hal[1]”.

Dalam hubungan seseorang dengan orang lain tentunya terjadinya proses komunikasi itu tidak terlepas dari tujuan yang menjadi topik atau pokok pembahasan, dan juga untuk tercapainya proses penyampaian informasi itu akan berhasil apabila ditunjang dengan alat atau media sebagai sarana penyaluran informasi atau berita.

Dalam kenyataannya bahwa proses komunikasi itu tidak selamanya lancar , hal ini terjadi dikarenakan kurangnya memperhatikan unsur-unsur yang mestinya ada dalam proses komunikasi. Kesalahpahaman dalam berkomunikasi sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini yang seringkali menjadi penyebab terjadinya konflik antar masyarakat.

Dari uraian tersebut, bahwa dalam komunikasi itu perlu diperhatikan mengenai unsur-unsur yang berkaitan dengan proses komunikasi, baik itu oleh komunikator maupun oleh komunikan, dan juga bahwa komunikator harus memahami tujuan komunikasi.

1.2 Perumusan Masalah

Dalam penulisan makalah ini, penulis membatasi masalahnya sebagai berikut:

  1. Mengapa kesalahpahaman bisa terjadi dalam kegiatan komunikasi?
  2. Bagaimana cara menggunakan pemahaman mengenai kesalahpahaman agar tidak terjadi kesalahpahaman?

1.3 Tujuan

  1. Menganalisis mengapa kesalahpahaman itu seringkali terjadi
  2. Menganalisis pemahaman atas pembicaraan orang lain dalam berbagai situasi sehingga mengurangi resiko terjadinya kesalahpahaman

1.4 Manfaat

Makalah ini sangat bermanfaat bagi penulis karena memberikan banyak pengetahuan tentang komunikasi yang baik agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam kegiatan komunikasi. Selain itu, makalah ini diharapkan dapat bermanfaat bagi mahasiswa, dan masyarakat yang membacanya karena makalah ini akan menambah pengetahuan bagi mahasiswa dan masyarakat yang membacanya.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Komunikasi

Istilah komunikasi acapkali digunakan dalam berbagai kegiatan percakapan, akan tetapi karena begitu luas pemakaiannya sering kali perkataan komunikasi tidak dimengerti oleh semua pihak dengan makna sama dengan maksud yang dimaksudkan.

Pakar komunikasi mendefinisikan komunikasi dengan cara yang berbeda-beda, Williams (1984) menyatakan bahwa kata kerja communicate berarti bertukar pikiran, perasaan, informasi, membuat orang lain menjadi tahu, menjadikan pemahaman bersama, dan memiliki hubungan yang baik[2]. Oteng Sutisna (1983) mengemukakan bahwa :

“Komunikasi ialah proses menyalurkan informasi, ide, penjeleasan, perasaan, pertanyaan dari orang ke orang lain atau dari kelompok ke kelompok. Ia adalah proses interaksi antara orang-orang atau kelompok-kelompok yang ditujukan untuk mempengaruhi sikap dan perilaku orang-orang dan kelompok-kelompok di dalam suatu organisasi”[3].

Maman Ukas (1999) mengemukakan tujuan komunikasi yaitu memimpin, mengarahkan, memotivasi dan menciptakan suatu iklim kerja di mana setiap orang mau memberikan kontribusi[4].

2.3       Hambatan Dalam Komunikasi

Faktor hambatan yang biasanya terjadi dalam proses komunikasi, dapat dibagi dalam 3 jenis sebagai berikut:

  1. Hambatan Teknis

Hambatan jenis ini timbul karena lingkungan yang memberikan dampak pencegahan terhadap kelancaran pengiriman dan penerimaan pesan. Dari sisi teknologi, keterbatasan fasilitas dan peralatan komunikasi, akan semakin berkurang dengan adanya temuan baru di bidang teknologi komunikasi dan sistim informasi, sehingga saluran komunikasi dalam media komunikasi dapat diandalkan serta lebih efisien.

  1. Hambatan Semantik

Gangguan semantik[5] menjadi hambatan dalam proses penyampaian pengertian atau idea secara efektif.
Untuk menghindari mis-komunikasi semacam ini, seorang komunikator harus memilih kata-kata yang tepat dan sesuai dengan karakteristik komunikannya, serta melihat dan mempertimbangkan kemungkinan penafsiran yang berbeda terhadap kata-kata yang digunakannya.

  1. Hambatan Manusiawi

Hambatan jenis ini muncul dari masalah-masalah pribadi yang dihadapi oleh orang-orang yang terlibat dalam komunikasi, baik komunikator maupun komunikan. Menurut Cruden dan Sherman, hambatan ini mencakup: Hambatan yang berasal dari perbedaan individual manusia, seperti perbedaan persepsi, umur, keadaan emosi, status, keterampilan mendengarkan, pencarian informasi, penyaringan informasi.
Hambatan yang ditimbulkan oleh iklim psikologis dalam organisasi atau lingkungan sosial dan budaya, seperti suasana dan iklim kerja serta tata nilai yang dianut.
2.4       Pengertian Kesalahpahaman

Kesalahpahaman menciptakan masalah bagi masyarakat dalam berkomunikasi. Jika tidak memahami satu sama lain, maka komunikasi tidak bisa berjalan dengan lancar. Jika mengetahui bahwa kesalahpahaman adalah suatu hal yang normal dan kesalahpahaman terjadi karena masalah bahasa itu sendiri bukan karena kesalahan pembicara, penulis, kejiwaan atau kepribadian seseorang, maka kesalahpahaman dalam berkomunikasi dapat teratasi dengan menggunakan kekuatan percakapan sehari-hari.

2.5 Cara menggunakan pemahaman agar tidak terjadi kesalahpahaman

Solusi masalah kesalahpahaman yang disebabkan oleh indeksikalitas dan refleksitas bahasa terletak pada kekuatan strategi berbicara untuk menciptakan konteks pemahaman. Cara untuk memahami komunikasi ini bisa mengakibatkan timbulnya perbedaan yang luar biasa pada kehidupan pribadi dan kehidupan sehari-hari. Ketika pemahaman seseorang mengenai kesalahpahaman berubah, maka seseorang juga akan berubah. Masalah komunikasi yang pada awalnya merupakan sumber frustasi, memalukan, dan ketidaknyamanan, sekarang menjadi suatu hal yang ada penjelasan sekaligus solusinya.

Gambar 1.1 menunjukkan indeksikalitas dan refleksivitas bahasa telah menciptakan penghalang untuk mengetahui bahwa konteks dan pemahaman pembicara sama dengan konteks dan pemahaman pendengar. Jika tidak mempunyai kesempatan berbicara secara timbal balik, maka tidak akan mempunyai waktu untuk memeriksa apakah lawan bicara mengerti maksud pembicaan.

Harus diciptakan pemahaman konteks melalui pembicaraan agar bisa saling memahami. Ketika berbicara, harus beranggapan bahwa sudah mempunyai dasar pengetahuan yang memudahkan untuk membangun percakapan. (Berlo, 1960) “Penting bagi orang-orang yang berkomunikasi untuk mempunyai makna yang sama”[6].


[1] Treece, 1989 dalam Ida Yuhana, et al, 2008: 2

[2] Williams, 1984 dalam Ida Yuhana, et al, 2008: 2

[3] Oteng Sutisna. 1983. Administrasi Pendidikan Dasar Teoritis untuk Praktek Profesional. Bandung:  Angkasa. Hal. 190.

[4] Maman Ukas. 1999. Manajemen Konsep, Prinsip, dan Aplikasi. Bandung: Ossa Promo. Hal. 314-315.

[5] Semantik adalah studi atas pengertian, yang diungkapkan lewat bahasa. Suatu pesan yang kurang jelas, akan tetap menjadi tidak jelas bagaimanapun baiknya transmisi.

[6] Berlo, 1960 dalam Ida Yuhana Ida, et al, 2008: 19

Dalam ringkasan hasil penelitian  M. Arnas Ferdiansyah R, dijelaskan tentang pengaruh motivasi bekerja perempuan di sektor informal terhadap pembagian kerja dan pengambilan keputusan dalam keluarga (kasus pedagang sayur di kampung Bojong Rawa Lele, Kelurahan Jatimakmur, Kecamatan Pondok Gede, Kabupaten Bekasi). Rata-rata para responden istri di daerah tersebut merupakan pedagang sayuran keliling musiman.

Dalam ringkasan ini dijelaskan bahwa kegiatan bekerja yang dilakukan para istri terjadi ketika nafkah sang suami kurang mencukupi kebutuhan hidup keluarganya, akan tetapi para istri hanya bekerja pada saat anak-anak libur sekolah atau libur panjang lainnya.

Hasil penelitian tersebut juga menemukan adanya pembagian kerja yang terdiri dari kegiatan produktif, kegiatan reproduktif dan kegiatan kemasyarakatan. Pembagian kerja dalam kegiatan produktif antara suami dan istri cenderung sama dan curahan waktu pada kegiatan produktif juga tidak terlalu berbeda jauh antara suami dan istri.

Pada pembagian kerja dalam kegiatan reproduktif, peran istri sangat besar dibandingkan peran suami. Dan dalam penelitian tersebut  tidak ditemukan hubungan antara curahan waktu dengan tingkat pengambilan keputusan, hal ini dikarenakan adanya budaya yang dianut oleh seluruh responden menyatakan bahwa setiap istri dapat bekerja akan tetapi tanggungjawab terhadap rumahtangganya juga harus menjadi yang utama.

Kritikan ringkasan tersebut berdasarkan pedoman membuat ringkasan :

  1. Cek untuk ketepatan
    • Penggunan bahasanya kurang baku untuk sebuah laporan penelitian.
    • Kurang tepat dalam penulisan susunan paragraf.
  1. Revisi
    • Sebaiknya digunakan bahasa yang lebih baku, misalnya dengan menghindari kata “mereka”.
    • Penulisan paragraf sebaiknya paragraf 1 dan 2 dgabungkan saja, begitupula dengan paragraf 3, 4, 5, dan 6.

3.   Dalam modul BMI dijelaskan bahwa dalam penulisan ringkasan sebaiknya menggunakan kalimat tunggal dibandingkan dengan kalimat majemuk. Dalam ringkasan tersebut masih terlihat adanya penulisan kalimat majemuk yang terdapat dalam paragraf 5, yakni “pada pembagia kerja kemasyarakatan, keterlibatan istri dan suami dalam kegiatan menghadiri selamatan dapat dikatakan seimbang begitu pula pada curahan waktunya”.